Banjarmasin - Umat Hindu di Kota Banjarmasin mengarak sebuah ogoh-ogoh di sepanjang Jalan Gatot Subroto, Jumat (28/3/2025).
Arak-arak ogoh-ogoh ini nampaknya menjadi tontonnya menarik bagi masyarakat yang melintas di kawasan itu.
Seperti Matisah yang sengaja berhenti dari perjalanannya pulang ke rumah setelah bekerja untuk menonton arak-arakan tersebut.
Bahkan tak ingin melewatkan momentum itu, dirinya sempat mengabadikan dalam sebuah video yang ia rekam di smartphonenya.
"Seneng dan antusias banget karena ini pertama di Banjarmasin. Nuansanya sudah berasa kek di Bali-Bali," ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan Fitri Anggraini yang langsung putar balik saat melihat arakan ogoh-ogoh.
"Tadi foto-foto juga di ogoh-ogoh sama anak-anak," ujarnya.
Fitri juga merasa sangat takjub dengan ogoh-ogoh yang dibuat karena sangat detail dan tak kalah dengan ogoh-ogoh yang ada di Bali dan sering ada dalam disiaran televisi.
"Iya bagus sekali dan biasanya cuman lihat di tv," akhirnya.
Sementara itu, Pengurus Pura Agung Jagat Nathan, Gede Sudiasa mengungkapkan arak-arakan ogoh-ogoh ini merupakan kali pertama digelar Kota Banjarmasin.
"Ini kali pertama kami bisa mengadakan ogoh-ogoh ini karena proses pembuatan cukup lama karena sangat rumit," kata Gede.
Tentunya lanjut Gede, pergelaran pawai ogoh-ogoh ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi agama Hindu di Kota Banjarmasin.
Mengingat selama ini yang kental akan tradisi dan budaya agama Hindu ini hanya berada di bagian daerah Bali saja.
"Kalaupun disini kami minoritas, tapi kami tetap ingin melaksanakan dengan tujuan memperkenalkan tradisi dan budaya dari agama Hindu di Banjarmasin," terangnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan arakan ogoh-ogoh sendiri merupakan salah satu rangkaian Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sehari sebelumnya.
Sebelum memulai arakan ogoh-ogoh lanjutnya, dilakukan upacara Macaru untuk menetralkan aura-aura negatif yang ada di semesta alam.
Adapun ogoh-ogoh dipercaya Umat Hindu sebagai representasi sifat buruk dan jahat dari diri manusia.
"Arakan ogoh-ogoh bermaksud untuk introspeksi diri terhadap sifat buruk dan jahat yang ada dalam diri sendiri," katanya.
Pada akhir perayaan, ogoh-ogoh akan dipegal kepalanya. Kemudian dibakar sebagai gambaran pembersihan sifat jahat manusia.
"Setelah itu, dilanjutkan persembahyangan di dalam Pura untuk mengucapkan syukur atas karunia tuhan selama setahun," tuturnya.
Besoknya pada saat Hari Raya Nyepi, semua Umat Hindu harus mematuhi catur brata penyepian yang diberlakukan selama sehari penuh, terhitung sejak pukul 06.30 WITA sampai pukul 06.00 WITA keesokan harinya yang terdiri dari.
Amati Geni: Tidak menyalakan api/lampu, termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.
Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri.
Amati Lelungan: Tidak bepergian, akan tetapi senantiasa introspeksi diri/mawas diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi/Ista Dewata.
Amati Lelanguan: Tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang. Alih-alih, tekun melatih batin untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.
"Seperti itu lah rangkaian dan pengertian dari sebuah Perayaan Nyepi," pungkasnya.
Hamdiah
Tags:
Banjarmasin